Hermin F Makamur (kedua dari kiri) menangis terharu usai menjalankan tugas mengibarkan bendera Merah Putih dalam upacara HUT RI di Lapangan Borarsi, Manokwari, Rabu (17/8).

Tangis Haru Anggota Paskibraka Usai Merah Putih Berkibar

MANOKWARI, Cahayapapua.com—- Berjalan tegap puluhan pasukan muncul dari sudut lapangan Borarsi Manokwari. Penuh aba-aba mereka memasuki lapangan upacara.

Sorotan mata yang tajam dan hentakan kaki pasukan pengibar bendera saka (Paskibraka) merah putih ini seakan memacu semangat nasionalisme dari para peserta upacara dan tamu undangan pagi itu.

Ribuan pasang mata tertuju pada mereka, seakan menyiratkan pesan bahwa sang saka merah putih harus berkibar sempurna di ujung tiang putih yang berada di depan tribun lapangan ibu kota ini.

Setelah pasukan berjalan kurang lebih 70 meter dari ujung lapangan, terlihat seorang gadis manis pembawa baki. Ia berjalan ditengah-tengah pasukan menuju tempat Gubernur Papua Barat Abraham O Atururi berdiri.

Adalah Hermin F Makamur, langkahnya pelan menapaki satu persatu anak tangga tribun lapangan tersebut. Tak lain, ia ingin mengambil kain saka dari tangan gubernur untuk selanjutnya di kibarkan.

Siswi SMA N 1 Teminabuan Sorong Selatan ini seakan tak peduli dengan panas terik mentari yang memapar Manokwari pagi itu. Satu hal yang tertanam dibenaknya, ia tak ingin sedikitpun ada kesalahan saat menjalankan ritual pengibaran bendera yang sakral dan dilaksanakan setahun sekali tersebut.

Bendera sudah di tangan tiga menggerek, perlahan kain merah putih itu diikat. Setelah dibentangkan dengan posisi sempurna, sang saka pun digerek dengan iringan lagu kebangsaan Indonesia dan hormat para peserta dan tamu yang hadir.

Begitu lagu selesai, sang merah putih pun berkibar di ujung tiang. Selanjutnya pasukan bergeser meninggalkan lapangan tersebut.

Isak tangis haru terlihat jelas pada wajah Hermin dan seluruh pasukan setelah mereka menuntaskan tugas pengibaran bendara pada upacara ini.

Mereka saling peluk dengan nafas yang masih terisak-isak. Begitu pun para pelatih, yang merasa bangga seraya terus memberikan semangat kepada seluruh anggota paskibraka yang tergabung dari 12 kabupaten satu kota di Papua Barat ini.

“Selama 27 hari kami berlatih. Sekuat tenaga, kami berusaha memberikan yang terbaik pada perayaan kemerdekaan ini. Saya terharu, karena semua bisa berjalan lancar,” kata Hermin usai ritual pengibaran bendara tersebut.

Ia dan teman-temanya merasa terkejut sekaligus bangga karena bisa melaksanakan seluruh rangkaian pada pengibaran tersebut. Baginya tugas ini bukan hal mudah, melainkan butuh konsentrasi dan kesehatan fisik serta latihan yang cukup.

“Apalagi untuk bergabung sebagai anggota Paskribraka ini tidak gampang. Kami harus melalui seleksi di tingkat kabupaten dan provinsi,” ujarnya lagi.

Hermin memiliki keinginan cukup kuat untuk bergabung sebagai anggota Paskibraka. Ia ingin pengalaman ini menjadi bekal baginya untuk menyonsong karir kedepan.

“Saya ingin penjadi Polwan (Polisi Wanita), setelah lulus sekolah semoga ada pembukaan seleksi penerimaan siswa Polri di Papua Barat,” kata siswi kelas tiga ini.

Komandan Paskibraka Papua Barat Letda Laut Khusus Eko Suhartono menilai, seluruh rangkaian dalam ritual pengibaran bendera pagi itu berjalan sesuai rencana. Meskipun demikian, masih ada beberapa hal yang harus dievaluasi agar bisa tampil lebih baik pada upacara penurunan bendera.

“Pada latihan yang kami jalani selama hampir sebulan lalu, kami fokus pada formasi. Informasi ini namanya formasi garuda, kami bersyukur semua berjalan lancar,” kata dia.

Dia menjelaskan, seleksi anggota Paskibraka berlangsung selektif. 33 anggota Paskibraka Papua Barat ini adalah orang-orang terpilih.

“Dua anggota Paskibraka Papua Barat memperoleh kepercayaan menjadi anggota paskibraka nasional. Hari ini dia di Jakarta untuk melaksanakan pengibaran bendera di Istana Merdeka,” ujarnya lagi.

Dia menyebutkan, pada seleksi nasional Papua Barat mengutus empat orang anggota Paskibraka terbaik. Dari empat orang itu, dua diantara lolos. Dua orang itu siswa dan siswi terbaik dari Kabupaten Teluk Wondama.

“Sementara untuk dua orang yang tidak lulus pada seleksi nasional, mereka kembali dan bergabung bersama Paskibraka Papua Barat,” pungkasnya. (IBN)

Tinggalkan Balasan