Bangunan Hatcery DKP di Kampung Coa. Foto: CAHAYAPAPUA.com |Isabela Wisang

Tempat Pemijahan Ikan DKP Kaimana Disebut Proyek Gagal

KAIMANA,CAHAYAPAPUA.com–Hatchery atau tempat pemijahan dan penetasan telur ikan untuk bibit yang dibangun Pemerintah Kabupaten Kaimana di lokasi pelabuhan pelelangan ikan (PPI) Kampung Coa disebut sejumlah kalangan sebagai proyek gagal. Bahkan mantan Ketua DPRD Kaimana periode 2009-2014 dalam sebuah diskusi pernah menyebut, program Hatchery Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) tidak akan berjalan maksimal.

Alasannya selain lokasi pembangunan hatchery yang tidak layak, juga wadah yang dibangun sangat tidak memungkinkan untuk berkembangbiaknya ikan, apalagi jenis kerapu. Meski demikian Arifin, mantan Ketua DPRD mengakui, terobosan pemerintah daerah untuk memperkenalkan sistim budi daya kepada masyarakat cukup bagus.

Menanggapi sebutan hatchery sebagai proyek gagal, Sekretaris DKP Elli Auwe, A.Pi mengatakan, pendapat orang terkait hatchery merupakan hal yang wajar. Namun cepat atau lambat, dinas selaku pihak pengelola program, akan membuktikan bahwa pernyataan itu keliru. Menurut Elli, hatchery yang terdiri dari 4 petak berukuran 6×8 meter dan pendederan/penetasan sebanyak 12 petak berukuran 2×3 meter, bertujuan menjawab kebutuhan benih ikan dari sejumlah keramba yang telah dibangun. Bahkan benih ikan dari hatchery DKP, juga diharapkan bisa menjawab kebutuhan benih ikan dari daerah sekitar karena beberapa diantaranya sudah meminta pasokan induk.

Sekretaris DKPD Elli Auwe belum lama ini mengatakan, hatchery DKP ini dikhususkan untuk ikan jenis kerapu dan akan uji coba jenis kakap. Saat ini telah ada 20 induk kerapu dan kakap didalamnya, yang diharapkan bisa berkembang secara alami. Namun jika proses kawin alami lambat, maka akan dilakukan dengan sistim buatan (kawin suntik), meskipun beresiko mati atau cacat. Diakui, dengan sistim alami, kemungkinan ikan untuk hidup dan tidak cacat berkisar 85-95 %, dibanding sistim suntik. Ia berharap, dalam waktu dekat pembenihan ikan mencapai hasil untuk mengisi keramba yang telah dibangun.

“Apapun pendapat orang, itu wajar-wajar saja. Tapi sebagai instansi teknis, cepat atau lambat kita akan buktikan hasilnya. Ini kan skala kecil, untuk menjawab kebutuhan benih pada setiap keramba yang telah dibangun. Kalau ini gagal maka kami yeng akan bertanggungjawab kepada masyarakat. Disisi lain kami berharap orang lain atau daerah lain bisa beli benih dari Kaimana. Baru jalan begini saja ada yang tanya induk. Bahkan ada sekolah yang berlatar belakang kelautan dan perikanan juga belajar disitu. Ini nilai positf yang sudah dirasakan terkait dengan program ini. Jadi kalau dibilang gagal itu wajar saja menurut versi orang karena banyak faktor yang mempengaruhi pendapat itu,” tukas alumni Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta jurusan Teknologi Penangkapan Ikan ini. |ISABELA WISANG

 

EDITOR: IMRAN

Tinggalkan Balasan