ilustrasi_Dugaan Korupsi

Terlanjur Beri Gelar Adat, Warga Biak Kecewa dengan Michael Wattimena

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com– Kepala Suku Biak yang berada di Manokwari Hengki Maryen kecewa dengan anggota DPR RI Daerah Pemilihan Papua Barat, Michael Wattimena yang kini disebut-sebut tersangkut masalah korupsi.

Hengki menyatakan kekecewaan kepada politisi Demokrat tersebut karena yang bersangkutan pernah diberi gelar adat Biak pada masa pemilihan anggota legislatif DPR RI di Manokwari.

“Kami sempat memberi penghargaan anak adat Nasan kepada Michael Wattimena. Sekarang kami kecewa dengan dia karena dia dikait kaitkan dengan kasus korupsi,” kata Hengki di Manokwari, kemarin.

Hengki menjelaskan Nasan merupakan pemberian gelat adat dari setiap tua-tua adat Biak kepada seseorang yang diangkat sebagai anak adat. Pemberian ini dilakukan melalui prosesi adat.

“Kedepan jangan ada lagi pemberian gelar kepada orang yang tidak berbahasa Biak, sebab pengalaman ini nanti akan berakibat fatal apabila diberikan kepada orang tidak tepat,” kata Hengki.

Di tempat yang sama tokoh masyarakat Biak Yan Arwam menyatakan Michael harus meminta maaf kepada warga Biak setelah namanya ikut disebut-sebut dalam kasus tersebut.

“Kami orang Biak mendukung Machael maju karena melihat kemampuan dengan harapan adanya perubahan, namun setelah namanya disebut kami anggap sangat memalukan. Kita akan gelar sidang adat jadi pak Michael harus hadir,” kata dia.

Sementara itu Ayub Inseren, yang menyatakan diri sebagai Ketua Forum Peduli Partai Demokrat Papua Barat menyatakan menyayangkan terseretnya nama Machael dalam kasus korupsi.

Ia mengatakan, “Kita kembalikan saja ke proses hukum, apabila ada bukti kuat maka dia harus bertanggung jawab secara hukum.”

Maichel yang kini sebagai wakil Ketua Komisi V DPR RI disebut oleh tersangka kasus dugaan suap proyek infrastruktur dengan anggaran Rp1,2 triliun, Damayanti Wisnu Putranti. Ia disebut terlibat dalam perencanaan proyek tersebut.

Proyek yang berujung suap itu, kata Damayanti, seperti dikutip dari Media Indonesia bermula dari perencanaan bersama ketika Komisi V kunjungan kerja ke Maluku pada Agustus 2015.

“Iya (Michael Wattimena) ada,” ungkap Damayanti seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (30/1). Namun, Damayanti enggan merinci keterlibatan Michael. Ia hanya membenarkan bahwa politikus Demokrat itu ikut dalam kunjungan kerja Komisi V ke Maluku.

Damayanti, politisi PDIP dijaring Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dtaingkap dalam operasi tangkap tangan OTT Januari 2015 berkaitan dengan proyek infrastruktur Maluku dengan anggaran Rp1,2 triliun. |ADLU RAHARUSUN