Aset milik tersangka kasus korupsi pembangunan jembatan penghubung pulau Rutum-Reni di Raja Ampat, CR yang disita kejaksaan setempat beberapa waktu lalu.

Tersangka Korupsi Ini Beli Tanah Warga dengan Sejumlah Iming-iming

WAISAI, CAHAYAPAPUA.com – Sungguh apes nasib yang menimpa Welfrid Lapon (65 tahun), salah satu pemilik hak ulayat yang berada di Waisai Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

Setelah menyerahkan tanah seluas 14 hektar kepada Cius Rita (CR) salah satu dari empat tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan jembatan fiktif penghubung pulau Rutum-Reni hingga saat ini hak-haknya tak pernah dipenuhi oleh CR.

“Awal saya bertemu dengan CR sekitar tahun 2016. CR datang membujuk saya mau beli tanah untuk membangun perumahan (KPR-red). Jadi dalam perjanjian jual beli tersebut harga keseluruhan totalnya 350 juta, ” kata Welfrid kepada media ini.

Melihat niat baik dari CR yang saat itu sebagai pengusaha sukses di Kabupaten Raja Ampat, akhirnya sang pemilik hak ulayat setuju dan melakukan pembebasan lahan secara adat kepada CR yang menghargai setiap hektar tanah sebesar Rp 25 juta disertai iming-iming sang pemilik tanah ulayat akan memberikan dua unit rumah siap pakai dan satu kendaraan roda empat.

“CR itu tidak menempati janji sampai saat ini, setiap saya minta hak saya, CR hanya memberi janji saja. Tidak pernah permintaan saya dipenuhi. Kalau pun ada dana yang diberikan oleh CR itu pun tidak semua, selalu dicicil dan mengatakan masih menunggu pencairan kredit dari bank dulu baru akan dibayar lunas,”ujarnya.

Karena curiga dengan sikap CR, Lapon memutuskan berangkat ke Sorong untuk menemui pihak bank untuk mencari kebenaran dan ternyata pejabat Bank Papua pun kaget kalau masalah jual beli tanah seluas 14 hektar dengan ukuran 350X450 meter tersebut belum selesai pembayarannya karena CR sudah mencairkan pinjaman sebagai modal awal pembangunan perumahan KPR.

Pihak Bank Papua juga sudah melakukan sita barang milik CR  sebagai agunan namun tidak semua. Nasib malang menimpa Lapon karena diatas lahan tersebut berdiri 2 (dua) bangunan permanen eks kantor Media Raja Ampat Pos milik CR yang salah satunya ditempati oleh sang pemilik ulayat.

“Dulu CR ancam saya kalau terus minta uang tanah dia akan lapor ke pengadilan dan saya masuk tahanan, sekarang buktinya dia yang bermasalah dan ditahan dalam Lapas. Saya dan keluarga akan tetap menempati rumah diatas lahan ini karena CR tidak bayar uang tanah. Kalau mau kerja jujur di tanah ini pasti dapat berkat, tapi kalau suka tipu-tipu masyarakat pasti ada balasannya,” tandas Lapon. (NSR)

 

Tinggalkan Balasan