Ratusan Warga Toraja mendatangi Mapolres Teluk Bintuni, menuntut pengungkapan kasus pembantaian ibu rumah tangga dan dua anak di daerah tersebut baru-baru ini.

Tersangka Tidak Jelas, Dukungan untuk Keluarga Frelly Terus Mengalir

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com–Upaya Ikatan Keluarga Toraja dan keluarga korban pembunuhan sadis di Bintuni untuk mendapatkan keadilan terus menuai simpati dan dukungan publik. Di Manokwari, ibukota provinsi Papua Barat, sejumlah elemen masyarakat sipil rencananya akan menggelar aksi demontrasi, Jumat (18/9) nanti mendesak aparat penegak hukum menuntaskan kasus ini.

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manokwari, Duma Tato Sanda menyatakan tersangka harus secepatnya ditetapkan. Hal ini bukan saja penting bagi keluarga korban agar mendapat kepastian, tetapi juga penting bagi institusi kepolisian agar kembali mendapatkan kepercayaan publik.

“HMI ikut mendorong agar kasus ini segera terungkap. Saya lihat kepercayaan publik terhadap pihak kepolisian kini ‘terjun ke bawah’ apalagi banyak kasus pembunuhan di wilayah Papua Barat belum terungkap,” ucapnya.

Terpisah, Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manokwari, Lamek Dowansiba menyatakan GMNI secara tegas mengutuk kasus pembunuhan sadis Ny Frelly dan dua anaknya. GMNI mendesak Polda Papua Barat bertindak tegas dan cepat.

Jika melihat kondisi para korban, pelaku benar-benar menistakan nilai kemanusiaan. Itu sebabnya, seluruh pemangku kepentingan dan kebijakan yang berkaitan dengan urusan HAM, perlindungan anak dan perempuan di tingkat lokal maupun nasional diminta segera bertindak.

“Ini pelanggaran hak asasi manusia, masalah kemanusiaan. Bukan lagi urusan orang Toraja semata atau urusan etnis, tapi sudah jadi urusan publik. Bagi kami, ada urgensi bagi Komnas HAM, Komnas Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Komnas Perlindungan Anak untuk mengambil langkah-langkah yang lebih kongkrit,” tegasnya di Sekretariat KNPI Manokwari, Jalan Percetakan Negara, Sanggeng.

Ketua Ikatan Mahasiswa Tambrauw di Manokwari, Hugo Asrouw juga mendesak hal serupa.
“Komnas HAM tidak bisa duduk diam melihat hal ini. Polisi juga harus transparan kepada publik soal langkah-langkah yang sudah dilakukan serta perkembangan kasus ini,” ujarnya.

Aksi Publik

Sejumlah elemen masyarakat akan menggelar aksi di Manokwari, Jumat pekan ini. Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Papua Barat akan mengerahkan ribuan anggotanya bergabung dengan massa yang diorganisir oleh Dewan Adat Papua serta sejumlah komponen pemuda, mahasiswa dan organisasi perempuan. Peserta aksi akan menggunakan pakaian hitam sebagai simbol perkabungan.

Menurut informasi, massa akan bergerak dari Lapangan Borarsi menuju Polda Papua Barat. Tujuan mereka satu, mendesak aparat segera menuntaskan dan transparan mengenai kasus ini.

Koordinator Jaringan HAM Perempuan Papua-TIKI, Edison Baransano, usai bertemu dengan Ketua Klasis GKI Manokwari di Kwawi menyatakan penyidik harus tetap sensitif pada kepentingan dan kondisi psikologi keluarga korban terutama saat mereka diperiksa sebagai saksi.

Dalam konteks penerapan hukum aparat hendaknya menggunakan instrumen-instrumen hukum yang berkaitan dengan perlindungan perempuan dan anak. Ia juga menegaskan bahwa kasus ini sudah masuk dalam kategori pelanggaran HAM.

“Polisi harus melihat instrumen hukum internasional yang diratifikasi oleh pemerintah Indonesia yang berkaitan dengan perlindungan perempuan dan anak. Selain itu, keluarga korban semestinya didampingi oleh konselor atau tenaga pendamping yang berkompeten agar tidak menambah rasa traumatik mereka,” ujarnya.

Wakil Ketua Gereja Kristen Injili (GKI) Klasis Manokwari, Pdt Yohanis Mamoribo menyatakan ikut mengutuk peristiwa ini. Terlebih karena sejumlah kasus pembunuhan di Manokwari dan Bintuni belum terungkap.

“Kami (GKI) meminta agar Polri dan jajarannya mengusut tuntas kasus ini termasuk kasus-kasus pembunuhan yang terjadi di Tanah Papua. Polda harus serius menangani ini untuk meningkatkan kepercayaan publik dan umat,” katanya di Kantor GKI saat bertemu dengan Sekretaris Dewan Adat Papua, Zakarias Horota serta sejumlah pegiat HAM dan tokoh pemuda mendiskusikan masalah ini.

Ia juga mengatakan, keberpihakan GKI terhadap korban didasarkan atas nilai kemanusiaan terlebih korban dan keluarganya adalah anggota jemaat GKI. Selain itu, ia menilai orang Toraja—salah satu etnis pendatang di Tanah Papua– punya andil yang besar dalam perkembangan GKI di Tanah Papua. “Kami tidak tinggal diam dan akan terus mengikuti perkembangan kasus ini,” ucapnya.

Kamis, (27/8) lalu, seorang warga Bintuni, Ny Frelly Dian Sari (26 Tahun) bersama dua anaknya Cicilia Putri Natalia (6 Tahun) dan Andhika (2 Tahun) ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya, Jl Raya Bintuni Km 7, Distrik Bintuni.

Frelly yang sedang mengandung 4 bulan, ditemukan di ruang tengah lantai 2 rumahnya dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya penuh luka dan tusukan. Sementara jenazah 2 anaknya yang ditemukan di ruang berbeda di lantai 2 juga mengenaskan dengan sejumlah luka tusuk dan tebasan di tubuhnya.

Ny Frelly adalah istri dari Julius Hermanto. Suaminya bekerja sebagai guru di Kampung Yensey. Saat kejadian, Julius mengaku sedang berada di tempat tugas. Selasa pagi—dua hari sebelum jenazah mereka ditemuka– adalah pertemuan terakhir keluarga ini, tepat ketika Herman berangkat ke tempat tugasnya. Keluarga ini adalah warga Teluk Bintuni yang juga adalah anggota Ikatan Keluarga Toraja (IKT).

Para korban sejauh ini diduga kuat adalah korban pembunuhan. Proses hukum sedang berjalan. Belasan saksi sudah diperiksa. Pihak kepolisian optimistis dapat mengungkap kasus ini, namun sejauh ini, belum seorang pun yang ditetapkan sebagai tersangka. |PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG