Manajer Hawai Bakery Manokwari Aikin (kanan) memberi penjelasan soal label halal produk mereka kepada Ketua MUI Papua Barat Ahmad Nasrau (kiri) saat MUI menggelar inspeksi label halal ke Hawai Bakery, Senin (13/3).

Terungkap, Label Halal Dua Produk Siap Saji Terkenal Sudah Lama Berakhir

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Masa berlaku lebel halal yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap sejumlah produk makanan siap saji yang diproduksi di Manokwari ternyata telah habis. Ini terbukti dalam inspeksi mendadak MUI Papua Barat ke toko makanan siap saji di Manokwari, Senin (13/3).

Dalam inspeksi tersebut, MUI mendatangi toko makanan siap saji seperti Hawai Bakery, Billy Bakery dan Cafe Cinnamon. Hawai Bakery dan Billy Bakery adalah produsen makanan siap saji abon gulung yang sudah memiliki nama besar, bahkan salah satunya telah menyasar sejumlah kabupaten di Papua. Sementara Cinnamon adalah Cafe yang sudah memiliki pelanggan cukup banyak. Baru-baru ini Cafe ini memperlebar sayapnya ke Wosi.

Ketua MUI Papua Barat Ahmad Nasrau mengakui bahwa masa berlaku lebel halal dari MUI ketiga produk tersebut telah habis sejak 2013 lalu. Selama kuran waktu tersebut, hingga saat ini, ketiga pemilik produk tersebut belum memperbaharui label halal mereka.

Manajer Hawai Bakery Aikin mengakui label halal produk mereka memang telah berakhir pada 2013 lalu. Ia berdalih terkendala untuk memperbaharui label halal, karena MUI Papua Barat menurutnya pernah dibekukan. Alasan itulah yang menyebabkan pihaknya hingga kini belum memperharui label halal.

“Kami bersedia memperbaharui label halal dari MUI. Kami pernah mendatangi  MUI namun ada informasi yang kami dapat, pengurusnya dibekukan sehingga kami belum sempat memperbaharuinya lagi,” Akin mengaku.

Ahmad Nasrau menjelaskan masa berlaku label halal yang dikeluarkan MUI pada produk makanan, termasuk makanan siap saji, hanya dua tahun. Setelah masa tersebut, pemilik produk makanan mestinya memperbaharui label halal mereka ke MUI.

“Enam bulan sebelum masa berakhir memang mestinya diperbaharui. Dan jika tidak diajukan perpanjangan, maka label halal dari MUI harus dicabut,” kata Ahmad.

“Label halal dari MUI merupakan hak paten. Jika ada yang mencatut label tanpa melalui proses dan mekanisme, bisa saja diproses secara hukum,“ tambah Ahmad Nasrau.

Dia mengatakan MUI Papua Barat telah diberi kewenangan secara otonom untuk memberikan label halal kepada produk-produk yang menjadi barang konsumsi masyarakat di Papua Barat.

Untuk tujuan tersebut, MUI Papua Barat telah memiliki auditor. Beberapa tahun lalu menurutnya, MUI Papua Barat telah menggeluarkan label halal ke sejumlah produk makanan di Papua Barat termasuk kepada Hawai Bakery, Billy Bakery dan Cafe Cinnamon.

Ahmad berdalih bahwa salah satu kendala terhambatnya pembaharuan label halal produk siap saji selama bertahun-tahun, seperti mereka temukan pada sidak kemarin, karena pengurus MUI sebelumnya tidak bekerja dengan optimal.

Dia mengaku telah memberikan undangan ke para pemilik produk siap saji dan produsen makanan di Papua Barat, terutama yang telah memiliki pelanggan besar untuk memperharui label halal mereka.

“Kami telah memberikan undangan kepada para pemilik usaha ini agar datang ke kantor MUI setiap akhir pekan (Sabtu), untuk mendaftar pembaharuan label halal dan mendapat penjelasan dari kami,” tutur dia di kantor MUI setelah sidak.

“Yang sudah terdaftar label halal MUI yaitu Hawai Bakery, Billy Bakery dan D’Cinamon, tapi karena kepengurusan MUI sebelumnya fakum jadi belum sempat diperbaharui,” tambah Ahmad Nasrau.

Ia menegaskan sosialisasi penggunaan label halal dari MUI akan terus dilakukan pada semua kalangan, terutama para pengusaha makanan dan minuman kemasan, tak terkecuali rumah-rumah makan. (MAR/*)

Tinggalkan Balasan