Luapan air kali di jembatan Kampung Isei yang menyebabkan kepanikan masyarakat, di Teluk Wondama, Papua Barat, Kamis (27/11/2014). Foto: CAHAYAPAPUA.com | Adlu Raharusun

Wasior Kembali Panik

WONDAMA,CAHAYAPAPUA.com Warga di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, kembali panik menyusul meluapnya tiga kali di daerah tersebut, Kamis (27/11/2014).

Tiga aliran kali dimaksud adalah Kali Uriasi atau biasa disebut Kali Kabow, Kali Mati yang muaranya di Kampung Kabo dan Kampung Isiei – Distrik Wondiboydan Kali Rowi yang berada di perbatasan Kampung Isei dan Kampung Tandia – Distrik Tandia, Kabupaten Teluk Wondama.

Pengalaman pahit bencana banjir bandang waktu lalu, rupanya masih membekas dalam ingatan. Tak heran luapan kali yang mencapai 1 meter diatas permukaan itu, sontak membuat warga panik lalu berhamburan keluar rumah.

Tak jauh beda dengan banjir bandang Oktober 2010 lalu, luapan aliran tiga kali yang berasal dari Gunung Wondiboy tersebut, membawa serta material pasir, batu dan kayu dengan warna air kecoklatan.

Oktovianus Bokoway salah satu warga kepada CAHAYAPAPUA.com, Kamis (27/11/2014), menuturkan sebelum terjadi luapan air kali, dirinya sempat mendengar bunyi gemuruh yang berasal dari Gunung Wondiboy. Selang beberapa menit, air kali yang turun dari gunung tidak seperti biasanya. “Warna air kali saat itu coklat dan membawa serta material pasir, batu dan kayu,” cerita Oktovianus.

Hal senada diutarakan Lambert Sawaki, warga Kampung Isei, Distrik Rasiei – Kabupaten Teluk Wondama. Ia mengaku setelah melihat aliran kali yang sudah berwarna kecoklatan dengan membawa serta material di Gunung Wondiboy sebagai sumbernya, sontak dia membawa semua keluarganya keluar rumah untuk mencari lokasi yang aman.

Barang (kejadian,red) ini bukan baru terjadi. Ini sudah terjadi beberapa tahun silam dan memakan korban cukup banyak, jadi walau orang bilang ini kecil tapi kami tetap mengantisipasi,” ujar Lambert terlihat panik.

Kepala Kampung Torey, Martinus Watori membenarkan pernyataan Oktovianus Bokoway. Jelas dia, bunyi gemuruh seperti operator alat berat bekerja terdengar jelas dari atas Gunung Wondiboy sekitar pukul 14.00 WIT siang, lalu menyusul luapan air kali berwarna coklat.

“Beberapa hari terakhir ini hujan deras, mungkin sumber air di gunung sudah tidak bisa menampung, jadi terjadi luapan kali di bawah,” ujarnya.

Martinus berharap kejadian ini dapat disikapi serius instansi terkait. Solusinya saran Martinus, perlu dibangun talud sepanjang aliran kali maupun di tiga jembatan aliran tiga kali yakni Kali Kabow, Kali Mati dan Kali Rowi.

“Jangan hanya mengeruk material di dasar kali saja, karena pada saat – saat tertentu luapan air kali terus menggeser material dari gunung sehingga menimbun kali. Jadi perlu juga ditalud,” sarannya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Teluk Wondama, Andi Kaykatui sepakat dengan usulan Martinus Watori. Saran Martinus, sebut Andi, sudah pernah disampaikan kepada Dinas PU di Bagian Balai Besar Sumber Daya Air untuk perlunya dibangun talud dan chek dam yang berfungsi menahan derasnya sumber air kali diatas gunung.

“Kalau banjir waktu lalu memang anggaran bencana alamnya ditangani oleh BPBD. Tapi kalau pembangunan talud itu merupakan kewenangan Kementrian PU dan Kabupaten sehingga hal ini perlu dikordinasikan,” kata Andi saat ditemui di lokasi banjir bersama timnya memantau ketinggian air.

Pantauanlapangan pada tiga lokasi yang berbeda, di sekitaran tiga kali warga berhamburan keluar rumah dan sempat mengakibatkan kemacetan di ruas jalan raya menuju Kompleks Perkantoran Pemda Teluk Wondama.

Saat berita ini ditulis ketinggian air berangsur surut, namun tidak mengurangi kesigapan warga yang nampak masih terjaga memantau situasi.|ADLU RAHARUSUN

 

EDITOR: IMRAN

Tinggalkan Balasan