Bupati Teluk Wondam Bernadus Imburi, Wabup Paul Indubri mendengar aspirasi warga Distrik Rumberpon di Jende. Ibu kota Distrik Rumberpon kembali gelap gulita sejak pertengahan 2013 akibat rusaknya listrik desa.

Tiga Tahun, Ibukota Distrik Rumberpon Gelap Gulita

WASIOR, Cahayapapua.com—– Masyarakat kampung Yembikiri, ibukota distrik Rumberpon selama tiga tahun terakhir hidup dalam kegelapan. Listrik desa yang sebelumnya menjadi sumber utama penerangan di malam hari sejak pertengahan 2013 tak lagi berfungsi karena mengalami kerusakan.

Warga setempat berharap Pemkab Teluk Wondama mencari jalan keluar agar dalam waktu tidak terlalu lama kampung mereka bisa kembali terang di malam hari.

Harapan tersebut disampaikan Kepala Distrik Rumberpon Martinus Marani pada acara tatap muka dengan Bupati Bernadus Imburi dalam kunjungan kerja di aula kantor kampung Yembekiri pekan lalu.

Rumberpon merupakan salah satu distrik terluar di Kabupaten Teluk Wondama sekaligus pintu masuk menuju Wondama dari arah utara. Wilayah yang terdiri atas 6 kampung ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Manokwari Selatan.

Oleh karena itu mewakili masyarakat, Martinus meminta Bupati agar memberi perhatian khusus terhadap krisis listrik yang terjadi di ibukota distrik Rumberpon.

Kepala Dinas Perindagkop Antonius Toni Marani yang ikut hadir mendampingi Bupati menjelaskan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan PT.PLN persero wilayah Papua dan Papua Barat untuk mengatasi persoalan listrik di Rumberpon.

Hasilnya pihak PLN telah setuju membangun PLTD (listrik tenaga diesel) di Yembikiri.  Dalam beberapa waktu ke depan pihaknya bersama perwakilan dari PLN akan turun melakukan survey.

“Yang diminta PLN adalah masyarakat harus siapkan lokasi untuk pembangkit dan pembangunan tangki timbun. Itu yang utama sehingga saat kita kembali turun survey sudah pasti tanah atau lokasinya, “ papar Toni.

Sesuai pantauan, tidak adanya listrik selain membuat sebagian besar wilayah Yembikiri gelap gulita tetapi juga mengakibatkan kampung yang terletak di pesisir pantai itu menjadi seperti mati suri di malam hari.

Padahal sebelum-sebelumnya Yembikiri terkenal ramai dan semarak di malam hari karena kilauan lampu hias serta aktivitas masyarakat yang banyak dilakukan di malam hari. Meski banyak rumah yang tetap terang karena memiliki generator listrik sendiri, namun tetap saja kondisinya jauh berbeda seperti sebelum listrik desa rusak total.

“Sudah tiga tahun ini Yembikiri sudah seperti kota mati gara-gara lampu tidak ada, “kata salah seorang warga Yembikiri. (BRV)

Tinggalkan Balasan