Aksi yang dilakukan aliansi bela NKRI Manokwari, kemarin.

Tolak Papua Merdeka, Aliansi Bela NKRI Lakukan Orasi dan Arak-arakan di Sanggeng

MANOKWARI, Cahayapapua.com—- Sejumlah elemen yang mengatasnamakan Aliansi Bela Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI, Selasa (31/5/2016) menggelar aksi Arak-Arakan dan melakukan orasi di seputaran Jalang Percetakan Sanggeng Manokwari.

Dengan Membawakan sejumlah Bendera Merah Putih puluhan masa tersebut berkumpul di panggung Samping Sekretariat DPD KNPI Kabupaten Manokwari.

Kordinator Aksi Agustinus Matuti dalam pernyataan sikapnya mengatakan menolak dengan tegas keberadaan KNPB, PRD,ULMWP NRFPB beserta elemenya dan menyatakan Provinsi Papua Barat secara de vakto dan de jure merupakan bagian tak terpisah dari NKRI.

Selain itu Agustinus juga mengatakan menolak simbol dan atribut yang berbauh Bintang Kejora yang berhubungan dengan separatisme di Tanah Papua Barat, hal ini cukup beralasan karena wilayah ini sudah memiliki Bendera Merah Putih yang sejak dahulu berkibar mengusir penjajah Belanda dari negeri ini.

“Kami meminta dan mendorong aparat penegak hukum yang terdiri dari TNI/Polri agar bertindak tegas terhadap kelompok yang mengancam stabilitas keamanan di Kabupaten Manokwari yang merupakan ibukota Papua Barat, sebab tanah ini menginginkan kedamaian dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah di perjuangkan oleh para pendahulu dari jajahan Belanda, tegasnya.

Mereka berkeinginan agar anak-anak dan generasi muda Papua dapat dengan tenang belajar dan bekerja untuk kebahagian mereka di masa depan, dalam nuansa kebersamaan NKRI.

Aksi tersebut mendapat pengawalan dari pihak keamanan Polres Manokwari. Selain berorasi di halaman panggung Jalan Percetakan, masa juga melakukan arak-arakan dengan kendaraan roda dua maupun empat dengan membawa serta Bendera Merah Putih mengitari Sanggeng dan sekitarnya.

Kapolres Manokwari AKBP. Cristian Roni mengatakan pada dasarnya pihaknya mengedepankan pengamanan di wilayah hukum Manokwari.

Dalam aksi ini pihaknya menurunkan personil sabhara satu pleton dan personil brimob dua pelaton yang di bagi di dua wilayah, Amban dan Sanggeng.

Sementara itu, Gubernur NRFPB wilayah Doberai, Markus Yenu menyatakan menolak tegas aksi tersebut.

Karena menurutnya, aksi tersebut menjadi bagian untuk memprovokasi orang Papua di atas tanah ini. “Seharusnya dalam situasi seperti ini terdapat komunikasi yang baik terutama dialog yang menyatukan masyarakat asli Papua bukan dengan cara melakukan aksi seperti ini,” tegasnya. (MAR)

Tinggalkan Balasan