Bocah yang ditemukan terbunuh di sebuah cekungan mirip selokan tepat di belakang pagar rumah tetangganya di Swapen Perkebunan, Manokwari, Kamis, 1 Februari 2018. Lisna Boroallo/Cahaya Papua

Tragis, ditinggal sesaat di samping rumah, bocah 11 tahun terbunuh

MANOKWARI, Cahayapapua.com — Kepolisian Resor Manokwari belum berhasil mengungkap identitas pelaku pembunuhan bocah sebelas (11) tahun, yang ditemukan meninggal dunia di pojok rumah tetangganya di Kompleks Swapen Center, Jalan Swapen Perkebunan, Manokwari, Kamis (1/3) pagi.

Bocah berjenis kelamin perempuan Hijriany Salsabillah ini, ditemukan dalam kondisi tertelungkup di dalam sebuah cekungan mirip selokan tepat di belakang pagar rumah tetangganya.

Korban yang merupakan anak dari pasangan Cicilia Yarangga dan Muhamad Arfah itu ditemukan meninggal dunia hanya berselang 30 menit, setelah ia bersamanya ibunya mengambil kayu di halaman rumah mereka sekitar pukul 06.30 WIT.

Berdasar kronologi yang diperoleh Cahaya Papua, saat mengambil kayu, secara tiba-tiba adik korban menangis karena hendak ingin buang air besar sehingga mendorong ibunya kembali ke dalam rumah meninggalkan korban di luar rumah seorang diri.

30 menit kemudian, sekitar pukul 07.00 WIT, ibu korban yang sadar anaknya masih di luar rumah bergegas mencari korban. Ia hendak memandikan korban untuk bersiap ke sekolah. Namun korban yang merupakan murid kelas V di Sekolah Dasar Taman Ria Wosi itu tidak ditemukan.

Semakin kuatir, ibu korban mengelilingi rumah mereka bahkan menyusuri jalan raya di sekitar rumah mereka, namun korban tetap tidak ditemukan.

Pada rentetan waktu yang berdekatan, sekitar pukul 07.30 WIT tetangga korban, Sudirman (33) sedang berada di luar rumah. Sudirman pagi itu membersihkan rumput di sekitar rumahnya, sementara pada saat yang sama istrinya menjemur pakaian.

Aktivitas bersih-bersih rumah Sudirman dilakukan sampai di halaman belakang. Saat itulah dia menemukan korban sedang tertelungkup dalam keadaan tidak bernyawa pada cekungan mirip selokan tepat di belakang pagarnya.

Temuan itu kemudian hendak dilaporkan kepada suami korban yang merupakan anggota Polri. Namun suami korban saat itu sedang tidak berada di rumah.

Saat hendak ke kembali ke rumahnya dia berpapasan dengan seorang anggota polisi lain dan menyampaikan temuan tersebut. Dari sinilah informasi ini berkembang dan akhirnya ibu korban mengetahui anaknya telah meninggal dunia.

Kepala Kepolisian Resor Manokwari AKBP. Adam Erwindi mengatakan, saat ditemukan,  celana korban sudah melorot hingga paha. Batu berukuran besar dan sebuah sandal jepit juga ditemukan tepat diatas kepala korban.

Adam juga mengaku sampai sejauh ini pihaknya belum berhasil mengungkap jati diri pelaku. Ia tidak membantah bahwa sedang dilakukan pengembangan terhadap informasi jati diri seorang pria yang marak beredar di media sosial.

Adam juga mengatakan, ibu korban pada saat mengambil kayu, sebenarnya melihat seorang laki-laki bercelana pendek tanpa baju. Pada saat itu ibu korban sempat bertanya alasan pria tersebut berada di sekitar rumah mereka, dan dijawab sedang mencari paku bekas.

Sudirman juga mengaku melihat pria tersebut. Sudirman seperti dikatakan Adam mengatakan saat itu ibu korban terlihat berbicara kepada pria itu di sebelah rumah mereka ketika mengambil kayu bakar. Namun beberapa saat kemudian ia bergegas ke dalam rumahnya.

Kepolisian telah memasang garis polisi di sekitar lokasi penemuan korban. Korban juga telah divisum dan ditemukan lebam di sekujur tubuhnya. Lengan korban juga patah. Hasil visum juga menemukan dugaan kuat korban dicabuli, berdasar temuan luka pada anus korban. “Tidak ditemukan luka pada kemaluan korban,” kata Adam.

Sementara itu korban telah dimakamkan pada sore hari di pemakaman umum Pasir Putih, Manokwari Timur. |Lisna Boroallo

Leave a Reply

%d bloggers like this: