Kepala Perwakilan SKK Migas Pamalu, A. Rinto Pudyantoro.

Tumpahan minyak di Bintuni, SKK Migas panggil Pertamina EP

BINTUNI, Cahayapapua.com—  Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memanggil pihak Pertamina EP – KSO Petro Papua Mogoi, untuk meminta penjelasan perusahaan tersebut terkait pencemaran minyak di Daerah Aliran Sungai Wasian di Distrik Tembuni, Kabupaten Teluk Bintuni.

Kepala Perwakilan SKK Migas Pamalu, A. Rinto Pudiyantoro, Selasa (27/2), mengatakan kepada SKK Migas PT. Pertamina EP mengatakan lokasi tempat penampungan minyak mentah jauh dari sungai dan pemukiman warga. Jika terjadi dari sumur bornya langsung, Pertamina menyebut, kemungkinan tersebut kecil, karena proses pengeboran sudah dilakukan secara prosedur.

“Pertamina bilang ke saya begitu, terus kemudian minyak yang dihasilkan minyak berat, artinya setelah tertampung di kolam kemungkinan kecil tidak langsung mengalir ke sungai, itu cerita dari Pertamina,” kata Rinto di Hotel Steenkol, Teluk Bintuni.

Namun, kata dia, pihaknya tidak serta merta menerima begitu saja penjelasan dari PT Pertamina EP. Dia mengatakan jika dimungkinkan akan mengirim tim untuk mengecek langsung kondisi di lapangan.

Dia menjelaskan jika memang benar kasus tersebut merupakan tumpahan dari kolam penampungan, dia mengklaim sebenarnya resikonya tidak terlalu besar. Tapi permasalahan ini tetap menjadi perhatian serius pihaknya.

“Nanti saya pulang, cek hasil laporan dari tim, hasilnya apa langkah selanjutnya yang akan diambil, apakah perlu dikeluarkan surat peringatan atau sampai dengan sanksi,” tegasnya.

Mengenai dugaan sekitar 23 sumur baru yang dibor tanpa ada izin lingkungan dan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), Rinto mengaku baru mengetahuinya dan berjanji akan melakukan pemeriksaan menyeluruh dokumen administrasi operasi PT Pertamina EP, KSO Petro Papua Mogoi. “Kami akan berkoordinasi dengan perusahaan dan Dinas Lingkungan Hidup Bintuni,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, jika musim penghujan, minyak mentah milik PT. Pertamina EP- KSO  Petro Papua Mogoi, sering tumpah ke daerah aliran sungai (DAS) Sungai Wasian.

Kepala Dinas Pertanahan dan Lingkungan Hidup (DPLH), Teluk Bintuni, Syaiful A. Killian, membenarkan bahwa memang ada temuan minyak mentah mengalir ke  DAS Sungai Wasian. Namun terkait kadar yang bisa merusak lingkungan, pihaknya belum dapat memastikan. “Kami sudah melayangkan surat tertulis secara resmi kepada pihak perusahaan, sejak pertengahan bulan ini,” ujar Killian.

Terkait permasalahan ini, menurut dia pihak perusahaan sudah menyampaikan informasi bahwa ingin melakukan pertemuan, tetapi diluar Bintuni yakni di Sorong. Menanggapi tawaran tersebut, Killian mengaku menolak pertemuan di Sorong, karena lokasi perusahaan di Bintuni. Ia meminta pihak perusahaan datang dan menjelaskan semua persoalan tentang investasi di Tembuni kepada Pemda setempat di ibu kota kabupaten.

“Mereka minta saya ke Sorong, melakukan pertemuan dengan mereka, saya tegaskan tidak mau, dia harus datang ke Bintuni,” tegas Kepala Dinas, di Aula Sasana Karya Kantor Bupati, Senin (26/2).

Dia juga menjelaskan bahwa pihaknya telah turun ke lapangan untuk mengecek tumpahan minyak tersebut dan juga memeriksa semua dokumen perusahaan yang sudah lama beroperasi di Tembuni.

Hasil pemeriksaan sementara, PT. Pertamina EP- KSO  Petro Papua Mogoi diduga melakukan pelanggaran diantaranya, penambahan kapasitas produksi (jumlah sumur) diluar kapasitas yang disetujui dalam dokumen lingkungan dan izin lingkungan untuk masa kontrak kerja 20 tahun yang berakhir tahun 2016.

Dia menjelaskan sesuai izin lingkungan dan Amdal, PT. Pertamina EP- KSO  Petro Papua Mogoi berhak melakukan eksplorasi sumur baru dan rehabilitasi pengeboran pada sumur minyak yang lama dengan jumlah 53. Namun dari hasil pemeriksan sampai tahun 2018, ada total 76 sumur minyak yang dibor. Namun 23-nya yang baru dibor tidak memiliki izin lingkungan dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Lebih lanjut Killian menjelaskan dari 23 sumur minyak, 17 berada di wilayah Distrik Meyado yang diklaim masuk ke Mogoi, Distrik Tembuni, sementara 6 sumur minyak ada di Mogoi, Distrik Tembuni.

Bukan itu saja, kata dia perusahaan tersebut yang sebelumnya bernama PT. Patrindo berganti nama ke PT. Pertamina EP- KSO  Petro Papua Mogoi Wasian sejak 2015 tanpa melapor ke pemerintah daerah. |Arif Triyanto

Leave a Reply

%d bloggers like this: