Ilustrasi

Ungkap Kematian Napi, Polda Datangkan Tim DVI Papua

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Polda Papua Barat (PB) mendatangkan Tim Desaster Victim Identification (DVI) Polda Papua, untuk mengungkap kematian Agabus Saroi (Alm) terpidana yang ditemukan tewas dengan tali yang mengikat leher dalam kamar tahanannya di Lembaga pemasyarakatan (Lapas) kelas IIB Manokwari Jumat, (7/10).

Tim DVI Polda Papua yang didampingi Polda PB, langsung menggelar Otopsi terhadap Jenazah Saroy yang sejak kemarin berada di Kamar Mayat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Manokwari.

dr Izak Reba Sp.Kf. Spesialis forensic yang memimpin langsun langsung Otopsi, dengan di bantu dua dokter bedah dan dua dokter umum DVI Bidokes Polda Papua serta dan tiga dokter dari Bidokes Polda PB mengatakan, untuk hasilnya akan di serahkan ke penyidik. Dikarenakan pihaknya bekerja sesuai dengan ketentuan Hukum yang berlaku, meskipun demikian dia mengaku hasil sementara korban meninggal karena sesak napas.

“Untuk hasil sementara korban meninggal akibat sesak napas, namun secara detail nanti kita serahkan kepada penyidik ” terangnya.

Kasat Reskrim Polres Manokwari AKP. Aris Diego Kakori yang dikonfirmasi terpisah ihwal hasil otopsi tersebut, mengatakan bahwa dirinya belum bisa memastikan kapan akan di umumkan, “Kita masih menunggu proses dan hasil dari Tim DVI,” ujarnya.

Meski demikian Kakori memastikan kasus ini akan terus di usust hingga diketahui penyebabnya. Dan kata dia proses Penyelidikan terus dilakukan dan beberapa nama akan dimintai keteranganya, terutama saksi yang pertama kali menemukan korban. “Sejauh ini kita telah melakukan pemeriksaan terhadap 4 saksi. Ada petugas lapas dan tahanan “ujar Kakori yang di temui di RSUD Manokwari yangb ikut mengwal proses tersebut.

Dia pun menyatakan bahwa penyelidikan kasus ini akan terus dikembangkan dengan memeriksa saksi lain. “Jelasnya kita terus perluas dengan saksi – saksi lain dan kita akan kembali mengolah TKP sehingga kita bisa mengetahui kejelasan dari kasus ini,” tekannya.

Sementara itu, kerabat korban Hans Muid, yang hadir di RSUD tersebut, menilai ada kejanggalan dengan kematian korban. Menurutnya LP semestinya menjadi tempat pembinaan para narapidana.

“Lapas itu kan sudah dibawah pengawasan petugas tapi kok bisa ditemukan orang meninggal di dalamnya dengan kondisi yang menggenaskan. Kami pihak keluarga tidak terima. Saya minta pihak kepolisian agar terbuka mengungkap kasus ini,” pungkasnya. (MAR)

Tinggalkan Balasan