Unjuk rasa nelayan Sorong, Jumat (4/11), mendesak kepolisian setempat menindak tegas pengguna bom ikan di Pulau Nana, belakang Pulau Doom, Sorong, yang tertangkap baru-baru ini. Mereka mengajak sesama nelayan untuk bersatu melindungi terumbu karang di tanah Papua.
Unjuk rasa nelayan Sorong, Jumat (4/11), mendesak kepolisian setempat menindak tegas pengguna bom ikan di Pulau Nana, belakang Pulau Doom, Sorong, yang tertangkap baru-baru ini. Mereka mengajak sesama nelayan untuk bersatu melindungi terumbu karang di tanah Papua.

Unjuk Rasa, Nelayan Desak Polisi Hukum Pengguna Bom Ikan

SORONG, Cahayapapua.com— Sejumlah nelayan tradisional Kota Sorong, Jumat (4/11) pagi, berunjuk rasa ke kantor Polisi Air dan Udara Polres Kota Sorong, mendesak dihukumnya pelaku pengeboman ikan La Leli, yang tertangkap patroli Pol Airud, di Pulau Nana, Kamis (3/11) lalu.

Koordinator unjuk rasa Joshua Intamoni mengatakan, pelaku pengeboman ikan di Pulau Nana – terletak di belakang Pulau Doom— harus dihukum sesuai undang-undang yang berlaku agar dapat menimbulkan efek jera bagi yang lain.

Menurut  Joshua, aksi bom ikan di pulau itu meresahkan warga pesisir pantai di Pulau Doom, karena selain merusak terumbu karang, aktivitas menangkap ikan dengan cara dibom membuat ikan di Perairan Sorong berkurang.

“Kita minta Pol Airud segera menghukum pelaku pengeboman ikan, karena itu salah sekali. Aktivitas tersebut telah merusak terumbuh karang. Dampaknya bukan saat ini tapi generasi anak cucu kita yang akan merasakannya,” tegas Joshua.

Hal senada disampaikan tokoh pemuda Pulau Doom, Andrew Warmasen. Dirinya mengecam tindakan kriminalitas pengeboman ikan dan menunut Pol Airud aktif melakukan patroli di perairan Kota Sorong untuk mencegah terulangnya aksi ‘penjahat’ lingkungan.

Andrew bahkan mendorong Pol Airud untuk mengungkap pemilik bahan peledak yang dipakai La Leli. “Harus dikembangkan, siapa pemilik dopis itu, jangaan sampai ada yang menjadi bosnya,” tegas Andrew.

Sementara itu Kapolsek Pol Airud Polres Sorong Kota. AKP Kretsman berjanji pihaknya akan menindaklanjuti tuntutan warga dan menjamin akan menuntut pelaku sesuai aturan yang berlaku.

“Kita akan tetap proses masalah ini, baik itu menyangkut kepemilikan bahan peledak maupun penrusakan perairan Kota Sorong. Siapapun, dimanapun pasti tidak suka dengan aktivitas pengeboman ikan,” kata Kretsman.

Ia mengatakan Laleli akan dikenakan pasal pengrusakan lautan dan kepemilikan bahan peledak dengan ancaman diatas lima tahun penjara. (NSR)

Tinggalkan Balasan