Kripik tempe beromzet belasan juta rupiah di Manokwari, Papua Barat.

Usaha Kripik Tempe Rumahan di Manokwari Ini Beromzet Belasan Juta

Tempe adalah salah satu bahan makanan khas Indonesia yang sudah mendapat pengakuan dari badan kesehatan dunia (WHO). Rasa dan teksturnya pun familier bagi lidah orang Indonesia. Tapi siapa sangka bila makanan yang berbahan dasar kedelai ini bisa diolah menjadi jajanan dengan omzet belasan juta per bulan?

 

ADALAH Titik Purwanti, warga Distrik Masni, Manokwari,  yang terbilang sukses mengembangkan bisnis rumahan berbahan dasar tempe ini menjadi kripik.

Boleh dibilang, ibu tiga anak ini adalah pionir pengusaha kripik tempe di Manokwari. Kreativitas yang lantas membuatnya bisa mengantongi omzet sebesar 18 juta rupiah perbulan.

Usahanya dimulai secara tak sengaja, saat hendak merujuk anaknya ke Solo, yang patah kaki karena kecelakaan lalu lintas di Manokwari.

Disela masa perawatan anak bungsunya, ia merasa tertarik melihat pengusaha tempe di Ngawi yang sukses mengembangkan tempe sebagai kripik. Ia pun belajar, mulai dari teknik pembuatan, hingga racikan bumbu.

Merasa menguasai cara dan optimis melihat prospek pasar di Manokwari, ia memantapkan tekad untuk memulai bisnisnya sejak oktober 2014 lalu. Hasilnya memuaskan.

Alhamdulillah, laris manis. Omzetnya cukup besar dan menguntungkan,” kata ibu Titik yang kini mempekerjakan 2 orang untuk membantu usahanya.

Kini kripik tempe buatannya perlahan menjadi ikon jajanan baru Masni, bahkan mulai dikenal di Kota Manokwari. Pemasarannya mengandalkan warung dan kios kelontong. Promosi juga dilakukan lewat keluarga dan kenalannya. Ia menamai produknya Kripik Tempe “Barokah”.

Produk ini dijual dengan harga Rp.80.000 per Kg. Kripik tempe Barokah juga dikemas dalam plastik ukuran kecil sehingga harganya lebih terjangkau. Sehari, ibu Titik bisa memproduksi minimal 10 Kg kripik.

Jajanan ini rasanya cukup gurih, teksturnya renyah dan rasanya pun familier, khas tempe. Ibu titik juga mengaku menambahkan racikan bumbu rahasia pada kripik buatannya.

Bahan tempe mudah didapatkan di wilayah Masni. Itu menjadi salah satu alasan mengapa ibu Titik melirik bisnis ini. Kedua, pada umumnya tempe diolah sebatas sebagai “makanan berat” sehingga saingannya hanyalah produk sejenis dari bahan yang berbeda.

Tempe merupakan hasil olahan kedelai melalui proses fermentasi. Selama proses fermentasi berlangsung, kedelai mengalami perubahan nilai gizi dan tekstur. Kandungan gizi tempe disejajarkan dengan kandungan gizi yang ada pada yogurt. Tempe merupakan sumber protein nabati.

Tempe mengandung serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Kandungan antibiotika dan antioksidan di dalamnya juga dapat menyembuhkan infeksi serta mencegah penyakit degeneratif.

Dalam 100 gram tempe mengandung protein 20,8 gram, lemak 8,8 gram, serat 1,4 gram, kalsium 155 miligram, fosfor 326 miligram, zat besi 4 miligram, vitamin B1 0,19 miligram, karoten 34 mikrogram. Itu sebabnya tempe dan produk turunannya semisal kripik, boleh disebut makanan ringan yang bergizi tinggi.

Kini ibu Titik sedang berpikir untuk mematenkan produk atau mengurus ijin yang diperlukan untuk pengembangan usaha rumahannya. Sembari mempelajari sejumlah prosedur perijinan, ia terus menggeluti usahanya di Satuan Pemukiman 6 Melintang, Kampung Bowi Subur, Distrik Masni Manokwari.

Bila anda sempat mengunjungi Masni, tidak ada salahnya mencoba jajanan baru ini. |DAT

Tinggalkan Balasan