Pasar mama-mama Papua di kawasan pasar Sanggeng yang telah diresmikan penggunaannya beberapa waktu lalu tampak sepi, siang kemarin. Hanya dua pedagang yang memanfaat los jualan yang disediakan pemerintah.  (Foto: Patrix/CP)
Pasar mama-mama Papua di kawasan pasar Sanggeng yang telah diresmikan penggunaannya beberapa waktu lalu tampak sepi, siang kemarin. Hanya dua pedagang yang memanfaat los jualan yang disediakan pemerintah. (Foto: Patrix/CP)

Usai Diresmikan, Pasar Mama Papua Justru (Terkesan) Terbengkalai

Emi Kendi, gesit mengibas kantung plastik di tangan kanannya. Lalat yang menghampiri lapak tempatnya menjual sayur di pojok pasar Sanggeng Manokwari, pun terbang menjauh. Sesekali mama Emi, melempar senyum kepada warga yang lalu lalang di depan lapaknya.

 

Laporan: Patrix B.Tandirerung

 

“Saya sudah jualan 20 tahun lebih di sini. Mulai dari anak pertama belum lahir, sampai dua anak perempuan saya sarjana,” kata ibu berusia 46 tahun ini dengan nada bangga kepada Cahaya Papua, Jumat siang (21/10).

Mama Emi adalah satu dari ratusan mama-mama Papua yang berprofesi sebagai pedagang sayur di pasar tradisional ini. Lapaknya hanya terdiri dari beberapa potongan papan dan balok yang disusun sedemikian rupa menyerupai meja setinggi betis. Demikian juga tempat duduknya yang sederhana. Hanya berupa bangku kayu yang dibuat seadanya.  Di atas meja itulah, dijejali dengan rapi aneka sayuran dan bumbu dapur.

Bersama ratusan pedagang lainnya, Mama Emi, memanfaatkan bibir jalan di samping pasar yang dinaungi lembaran terpal lusuh. Sebenarnya ini adalah jalan yang bisa dilalui kendaraan. Namun setelah dimanfaatkan pedagang, jalan menjadi sesak. Praktis ruas jalan ini hanya bisa dilalui pejalan kaki.

Di bagian lain, pedagang yang didominasi kaum ibu, menggelar karung sebagai alas yang memisahkan sayur-mayur dagangannya dengan tanah.

“Kalau hujan, saya terpaksa angkat barang-barang karena kena percikan air. Tapi mau bagaimana lagi. Mungkin saya masih mending karena ada meja-meja ini. Tapi mama-mama dorang itu… bisa angkat karung semua. Kalau tidak nanti sayur hanyut dibawa air,” katanya sembari menahan tawa menunjuk rekan-rekannya.

Sebenarnya Mama Emi adalah satu dari ratusan mama-mama Papua yang telah mendapat lokasi di pasar sayur khusus mama-mama Papua yang lebih representatif. Pasar yang diresmikan oleh Bupati Manokwari, Demas Paulus Mandacan, ini terletak tak jauh dari tempatnya berjualan. Namun mama Emis memilih bertahan berdagang di pinggir jalan.

“Saya sudah coba jualan disana dua hari. Waktu bapak bupati resmikan dan besoknya. Tapi saya pindah kesini lagi karena pembeli tidak ada. Pembeli lari kesini semua karena pedagang lain belum pindah,” katanya.

Berdasar pengamatan, pasar mama-mama Papua yang dibangun di atas bekas terminal ini memang sangat representatif. Penaungnya adalah atap seng yang disanggah pilar-pilar baja yang kokoh. Berdagang disini tidak perlu menguatirkan hujan dan panas. Meja ditembok secara permanen dilapisi keramik sehingga mudah dibersihkan. Setiap meja kira-kira panjangnya 1 meter. Lantai pasar cukup tinggi sehingga sulit digenangi air hujan.

Menurut pedagang, pembagian meja atau los pasar ini diatur sedemikian rupa. Setiap meja bisa digunakan dua pedagang. Dengan perhitungan itu, pasar bisa menampung ratusan pedagang. Namun disitulah letak masalahnya.

“Masih ada pedagang yang anggap 1 meja dua orang itu terlalu sempit. Kalau hanya jual pinang mungkin cukup. Tapi kalau jual sayur dengan bumbu-bumbu memang sempit. Belum lagi semua pedagang asli Papua belum dapat jadi mereka memilih bertahan disini, biar tadah panas dan hujan,” tutur Mama Emi.

Namun bagi mama Emi sebenarnya itu bukan soal. Sebab jualan bisa diatur sedemikian rupa. Lagipula di lantai pasar yang juga ditembok, dagangan masih bisa digelar. “Saya sebenarnya senang sekali dapat los apalagi gratis. Tapi tidak mungkin bertahan jualan disana karena tidak laku. Pedagang belum kompak pindah. Itu masalah dasarnya. Kalau semua pindah ke pasar baru, pembeli pasti kesana. Kalau sebagian masih disini, pasti disana tidak laku karena pembeli masih kesini,” jelasnya.

Kemarin siang, pasar mama-mama Papua terlihat seperti seonggok bangunan yang terbengkalai. Sejumlah warga tampak bermalas-malasan tidur diatas los pasar. Sebagian duduk bergerombol sembari bercengkrama. Di sudut yang lain sekumpulan warga terlihat bermain kartu.

Selain itu hanya terlihat dua orang pedagang. Satu pedagang menjual minyak tanah eceran dan satunya lagi jualan pinang. “Sekarang sementara jualan pinang saja kaka. Ada rencana mau jual sayur dengan bumbu-bumbu tapi belum ada (pedagang) yang masuk. Semua kembali ke tempat lama,” ucap Rika Awom, seorang remaja putri yang menjaga los jualannya.

Mama Emi Kendi sendiri sebenarnya sudah memendam niat untuk mengembangkan dagangan. Namun itu bisa ia lakukan sekiranya para pedagang kompak pindah ke pasar baru. “Saya mau kembali kesana yang penting semua kompak. Saya mau tambah jualan makanan khas Papua,” ungkapnya ramah.

Ia mengatakan, pasar mama-mama Papua ini tidak akan terbengkalai jika ada pihak yang bisa menggerakkan seluruh pedagang yang sudah mendapat jatah tempat untuk menggunakannya. Baginya, itu hanya mungkin dilakukan oleh pemerintah daerah. Dan untuk melakukannya, butuh ketegasan.

“Bisa kalau pemerintah mau pindahkan. Yang penting kalau sudah disana, di pasar lama ini jangan ada lagi yang jualan. Itu juga bagus supaya jalan ini tidak sempit, bisa digunakan. Lagipula tidak baik kalau sayur dijual berdekatan dengan tanah, kotor!” tandasnya.(*)

Tinggalkan Balasan