Pilkada serentak 2015

Uskup Kaimana Ajak Warga Ciptakan Pilkada Damai

KAIMANA, CAHAYAPAPUA.com- Pemimpin Umat Katolik Keuskupan Papua Barat, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr mengajak seluruh umat katolik di wilayah Keuskupan Papua Barat, termasuk di Kabupaten Kaimana agar menciptakan Pemilukada yang aman, damai dan bertanggungjawab.

Perbedaan ideologi politik maupun pilihan terhadap figur lanjut Uskup, merupakan hal biasa dalam era demokrasi, tetapi tidak boleh menimbulkan perpecahan, permusuhan bahkan pertikaian.

Uskup menyampaikan hal ini saat hadir memberikan Sakramen Krisma kepada 254 umat katolik Kaimana bertempat di Gereja Katolik Santo Martinus Kota Kaimana, Minggu (13/9/2015) lalu. Dalam resepsi krisma di Halaman Gua Maria, Uskup mengatakan, pemilihan umum kepala daerah merupakan pesta demokrasi yang mewajibkan setiap warga negara yang telah memenuhi syarat untuk mengambil bagian didalamnya.

Gereja sebagai lembaga atau tempat bernaung umat Tuhan tidak membatasi umatnya menggunakan hak politik maupun menentukan pilihan. Gereja menghargai pilihan setiap individu karena perbedaan pandangan atau ideology politik maupun pilihan terhadap sosok pemimpin, merupakan hal yang biasa dalam era demokrasi.

Namun gereja tegasnya, tidak menginginkan umatnya terpecah-belah atau saling bermusuhan hanya karena perbedaan pilihan maupun pandangan politik. Gereja Katolik demikian Uskup, inginkan umat katolik memberikan contoh yang baik kepada sesama dalam menciptakan Pemilukada yang aman dan damai.

“Orang Katolik harus bertanggungjawab menciptakan kedamaian selama tahapan Pemilukada. Saya hanya ingin dengar bahwa umat katolik di daerah manapun, termasuk Kaimana sukses menjaga situasi aman dan tertib.

Untuk umat katolik Kaimana, jangan hanya senjanya yang indah, tetapi manusianya juga harus indah nian seperti senja sebagai buah dari ajaran katolik. Perbedaan paham atau ideology politik itu biasa. Beda partai, beda calon yang akan didukung itu hal biasa, tetapi jangan sampai hubungan persaudaraan jadi kacau balau.

Persaudaraan, kekerabatan, kebersamaan dan tali silahturahim yang terjalin selama ini tetap diatas segala-galanya,” tegas Uskup.

Disisi lain Uskup juga menegaskan pimpina gereja katolik tidak ingin terjebak dalam politik praktis, juga tidak memberikan dukungan kepada orang perorangan. Gereja Katolik hanya menginginkan Pemilukada yang bertanggungjawab di semua wilayah.

“Jangan menjebak pastor atau uskup untuk mendukung siapa pun.
Uskup, pastor, suster dukung penyelenggaraan pemilu yang bertanggungjawab, bukan dukung orang perorangan. Gereja tidak boleh memihak apalagi pada salah satu calon. Umat jangan membuat pemimpin atau gembalanya terjebak. Ini ujian bagi nilai-nilai yang harus kita amankan yaitu saling menghormati meskipun berbeda paham politik, saling menghargai meskipun kita tidak mendukung karena nilai-nilai yang muncul itu akan membawa harum nama gereja,” tutupnya. |ISABELA WISANG