Pulau Venu Kaimana (FLICKR)

Venu Pulau Inspiratif Konservasi

KAIMANA, Cahayapapua.com— Pulau Venu menjadi salah satu wilayah konservasi yang terdapat di Kabupaten Kaimana tepatnya di Distrik Buruway. Wilayah ini sekaligus sebagai kawasan pengelolaan konservasi yang paling utara dan berbatasan langsung dengan wilayah administrasi Kabupaten Fakfak. Luas wilayah Buruway 240.493 Ha dan membutuhkan waktu tempuh sekitar dua setengah jam dengan speedboat berkecepatan 80 pk dari ibukota Kaimana.

Ada 3 zona konservasi didalam wilayah pengelolaan Buruway, yaitu zona inti 17.922 ha, zona perikanan berkelanjutan 185.341 ha dan zona pemanfaatan 37.229 ha. Thamrin La Muasa, Koridor Manager Conservation International Kaimana menjelaskan, zona inti merupakan wilayah perlindungan habitat, jenis dan populasi ikan/biota dan penggunaannya terbatas untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.

Karena memiliki fungsi sebagai daerah pemijahan ikan dan pembesaran ikan lanjut Thamrin, zona Inti disebut sebagai Daerah Tabungan Ikan (DTI) yang ditutup serta dilindungi berdasarkan kesepakatan masyarakat lokal secara adat dengan cara Sasi Tetap atau Sasi Leluhur.

Sedangkan zona perikanan berkelanjutan demikian Thamrin, merupakan tempat perlindungan habitat dan populasi ikan, penangkapan ikan, budidaya ramah lingkungan, pariwisata dan rekreasi, penelitian, pengembangan dan pendidikan, serta pemanfaatan lain berdasarkan kearifan lokal. Tujuan dalam zona ini untuk menjaga keberlangsungan mata pencaharian nelayan tradisional.

Sementara zona pemanfaatan merupakan wilayah yang ditetapkan untuk melindungi habitat, jenis dan populasi ikan/biota dan pemanfaatannya hanya untuk kegiatan pariwisata terbatas, penelitian, pendidikan, pengembangan dan konservasi atau berbagai kegiatan pemanfaatan yang tidak merusak ekosistem aslinya.

“Pulau Venu merupakan salah satu tempat yang cukup memiliki banyak potensi alamnya. Wilayah disekitar Pulau Venu memiliki persentase tutupan terumbu pada kedalaman 5 meter 64% dan 12 meter 48%, biomasa dan kelimpahan ikan ekonomis penting lebih dari 19.000 kg/ha dan 55.000 ekor/ha,” jelas Thamrin La Muasa.

Lebih jauh dikatakan, wilayah venu juga merupakan daerah pembesaran ikan karang dan berpotensi sebagai lokasi agregasi dan pemijahan/fish spawning agregation (FSA) ikan kakap, acanthuridae, samandar, & Fuscilier serta tempat peneluran dan area makan penyu sisik/hawksbill dan penyu hijau/greenturtles.

Pulau ini juga dinyatakan sebagai lokasi potensial untuk penyelaman, memiliki potensi biota sasi terutama teripang, habitat penting bagi hiu, kerapu, kima raksasa, eagle ray dan napoleon. Persentase tutupan terumbu karang sehat mencapai 51% dengan biomasa dan kelimpahan ikan yang tinggi lebih dari 29.000 kg/ha dan 75.000 ekor/ha.


Pulau Venu, Rumah Kelahiran Penyu.

Secara terpisah, Communication & Outreach Coordinator Conservation International Indonesia–Kaimana Ping Machmud juga menjelaskan, sebagai pulau tempat bertelurnya penyu, Pulau Venu banyak dikunjungi penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu lekang (Lepidochelysolivacea) untuk bertelur. Telur-telur  penyu yang diletakkan tidak semuanya bisa menetas menjadi tukik.

Tingginya tingkat predasi demikian Ping Machmud, menjadi salah satu penyebab utama gagalnya telur-telur penyu ini menetas. Setelah menetas pun tukik-tukik penyu ini rentan menjadi mangsa predator di alam dan tingkat kematiannya (mortalitas) tinggi. Ditambah lagi jika perburuan penyu dan telur penyu terus dilakukan bukan mustahil lagi jika populasi penyu akan mengalami penurunan cepat dari waktu kewaktu.

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 891/Kpts-II/1999. Pulau Venu ditetapkan sebagai kawasan lindung berstatus “Suaka Margasatwa Pulau Venu” yang pengelolaannya dilakukan secara kolaboratif antara BKSDA dan DKP pada tingkat operasional seperti pengawasan dan monitoring sumber daya.

Sebagai wilayah perairan kaimana yang menjadi salah satu situs habitat peneluran penyu didunia, Pulau Venu menjadi lokasi tempat peneluran penyu terbesar yang tersisa. Sampai saat ini di Kaimana sudah teridentifikasi 5 jenis penyu dari 7 jenis yang ada di dunia.  Jumlah ini merupakan 71 % dari jumlah penyu di dunia.

Berdasarkan hasil monitoring penyu sejak 2011 sampai saat ini, ada 3 jenis penyu yang teridentifikasi meletakkan telurnya di Pulau Venu antara lain, penyu hijau, penyu lekang dan penyu sisik. Menurut pengamatan Tim CI, dari tahun 2011-2013 terjadi kenaikan jumlah sarang dari 700 sarang pada tahun 2011 menjadi 926 sarang pada tahun 2013.

Namun pada tahun 2014-2015 terjadi penurunan jumlah sarang yakni 586 sarang. Secara umum, total sarang penyu yang ditemukan di pantai pulau Venu dari tanggal 2 Maret 2011 – 31 Desember 2016 berjumlah 4.617. Perubahan jumlah sarang ini terjadi dengan selisih waktu 2 tahun dan dimungkinkan oleh siklus alamiah peneluran penyu sekitar 2 tahun sekali bahkan lebih dan ada kemungkinan juga dipengaruhi juga oleh faktor alam. (ISA)

Tinggalkan Balasan