Ilustrasi. (Doc. Cahayapapua)

Warga Hendak Hentikan Pelebaran Jalan di Gunung Kapur

MANSEL, Cahayapapua.com— Warga yang mengaku sebagai pemilik hak ulayat kawasan Gunung Kapur, Oransbari, Manokwari Selatan berencana menghentikan proyek pelebaran jalan yang melintasi kawasan tersebut, Senin pekan depan.

Permenas Demhi, warga yang mengaku sebagai (salah satu) pemilik hak ulayat mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaannya terhadap pihak kontraktor atau rekanan yang mengerjakan proyek tersebut.

Dia bilang, pemilik hak ulayat kecewa karena nilai kompensasi yang diberikan kontraktor tidak sesuai. Selain itu kompensasi belum didapatkan seluruh pemilik hak ulayat.

Beberapa waktu lalu, tutur Permenas, seorang perwakilan pemilik hak ulayat telah berkomunikasi dengan pihak kontraktor. Tujuannya untuk membicarakan besarnya kompensasi.

Tapi informasi yang ia terima dari keluarganya menyebut, dalam pertemuan itu kontraktor melibatkan aparat keamanan. Kehadiran aparat membuat wakil pemilik hak ulayat merasa tertekan.

Aparat yang hadir pada pertemuan dilaporkan ikut membujuk. “Sudah, ko bawa uang yang ada ini, supaya pekerjaan bisa jalan,” sebut Permenas mengutip anjuran aparat keamanan kepada keluarganya.

Saat itu, wakil pemilik hak ulayat kepada Permenas mengaku diberi uang sebesar 30 juta rupiah. Jumlah uang itu tak sesuai dengan tuntutan pemilik hak ulayat. Permenas merasa keluarganya dipermainkan.

Menyusul adanya kabar itu, Permenas mengaku hendak mendengar klarifikasi dari pihak kontraktor soal apakah benar yang diterima keluarganya hanya sebesar 30 juta rupiah.

“Keluarga menuntut 400 juta rupiah. Tapi hanya dikasih 30 juta, ini bukan kerjasama yang baik, kami seperti dipermainkan. Kami juga mau ini diklarifikasi supaya sesame keluarga tidak saling curiga,” tukasnya.

Soal rencananya menghentikan aktivitas proyek, Permenas mengatakan aksi tersebut tidak akan dilakukan secara diam-diam. Pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak terkait termasuk aparat keamanan.

Permenas mengatakan pihak kontraktor hendaknya lebih tanggap terhadap kepentingan pemilik hak ulayat. “Proyek di Gunung Sayori lebih bagus. Sebelum kerja, dorang lebih dulu amankan kepentingan pemilik hak ulayat,” bandingnya.

Proyek yang dilaksanakan mulai dari Tanjakan Gunung Kapur hingga kampung Watariri Distrik Oransari itu sedang berjalan. Di wilayah Gunung Kapur, para pekerja memberlakukan sistem buka tutup jalan. Proyek ini diperkirakan rampung pada bulan Oktober mendatang. Selama itu pula sistem buka tutup diterapkan.

Yanher, Pengawas Lapangan PT Fulica—kontraktor proyek ini—menyebut, pekerjaan sepanjang 8 Km ini hanya sampai pada tahap pelebaran. Sejauh ini Cahaya Papua belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak perusahaan soal tuntutan Permenas Demhi. |SOETANTO

Tinggalkan Balasan